RADARPEKALONGAN.ID, BATANG – Mutu capaian akademis pada jenjang pendidikan menengah pertama di Kabupaten Batang menjadi agenda evaluasi krusial bagi otoritas pendidikan daerah. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Batang menaruh atensi serius terhadap hasil evaluasi Tes Kemampuan Akademik (TKA) tingkat SMP Tahun Ajaran 2026, menyusul rendahnya raihan akumulatif siswa pada klaster mata pelajaran Matematika.
Berdasarkan draf dokumen rekapitulasi awal, rerata pencapaian nilai deskriptif untuk mata pelajaran Matematika siswa SMP di Kabupaten Batang masih tertahan di parameter angka 40. Indikator kuantitatif ini berbanding terbalik dengan capaian kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia yang mencatatkan draf performa relatif lebih stabil dengan indeks rata-rata di kisaran 60.
Kepala Seksi Kurikulum SMP Disdikbud Kabupaten Batang, Eko Sugianto, mengonfirmasi bahwa skema TKA periode ini merupakan draf implementasi perdana yang mengadopsi standar komparasi nasional. Oleh karena itu, deviasi angka yang muncul akan ditranslasikan sebagai draf basis rujukan pembenahan kurikulum internal secara menyeluruh.
Baca Juga:Telusuri Sejarah Kadipaten, Peneliti UGM Gali Data Otentik Hari Jadi Kabupaten Batang Melalui Trah AdipatiHadiri Tirto Night Festival Pekalongan, Wakil Wali Kota Balgis Diab Apresiasi Semarak Takbir Keliling
“Karena ini pertama kali menggunakan standar nasional, maka hasilnya menjadi bahan pembelajaran bersama, baik bagi Dinas Pendidikan maupun sekolah,” ujar Eko Sugianto saat memberikan draf paparan ilmiah di ruang kerjanya, Jumat (29/5/2026).
Akselerasi Indeks Numerasi dan Target Kenaikan Mutu Pembelajaran
Eko menguraikan, anomali rendahnya angka kelulusan pada bidang studi eksakta ini mengindikasikan adanya urgensi draf penguatan metodologi pengajaran di tingkat kelas, khususnya pada penguasaan materi numerasi dasar. Klaster numerasi saat ini telah ditetapkan sebagai draf indikator krusial dalam rapor mutu pendidikan nasional.
Guna memitigasi draf persoalan tersebut, Disdikbud Kabupaten Batang memproyeksikan target pemulihan yang rigid untuk penyelenggaraan ujian TKA pada siklus tahun depan. Manajemen daerah menargetkan draf grafik nilai rata-rata siswa mampu mengalami eskalasi hingga menyentuh batas minimal angka 60.
“Ke depan minimal rerata nilainya bisa berada di kisaran 60-an. Itu yang sedang kami upayakan lewat berbagai program peningkatan kualitas pembelajaran,” kata Eko memaparkan draf rencana strategis institusi.
Evaluasi taktis kedepan dipastikan fokus menyasar pada draf bidang studi yang masuk dalam parameter ukur nasional. Hingga draf regulasi tahun ini berjalan, instrumen TKA baru menguji dua kompetensi dasar utama, yakni Bahasa Indonesia dan Matematika.
