KENDAL, RADARPEKALONGAN.ID – Ribuan warga memadati ruas jalan utama Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, untuk menyaksikan Karnaval Budaya Islam dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, Selasa (16/6/2026) siang. Kegiatan yang digelar keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU) Kaliwungu bersama badan otonom NU tersebut berlangsung meriah dan menjadi ajang syiar Islam melalui perpaduan budaya serta kreativitas masyarakat.
Sejak siang, masyarakat berjejer di sepanjang rute karnaval untuk menyaksikan penampilan para peserta yang menampilkan berbagai kreasi bernapaskan Islam. Karnaval mengusung tema “Bersama Hikmah, Berdaya, Melayani Umat” dan diikuti sekitar 500 peserta dari 26 rombongan. Peserta berasal dari pengurus ranting NU se-Kecamatan Kaliwungu, badan otonom NU, hingga lembaga pendidikan di bawah naungan LP Ma’arif NU. Mereka berjalan dari Alun-Alun Kaliwungu menuju Gedung MWC NU Kaliwungu sebagai titik akhir kegiatan.
Beragam atraksi ditampilkan sepanjang perjalanan, mulai dari gambaran kehidupan pesantren, semangat Islam Nusantara, hingga beragam kostum dan atribut kreatif yang merepresentasikan nilai-nilai keislaman dan tradisi lokal.
Baca Juga:Polisi Tunggu Hasil Tes DNA Kasus Padepokan Padang Ati, 7 Korban DiperiksaKPK Periksa 14 Saksi Kasus Fadia Arafiq di Mapolres Pekalongan Kota Selama Tiga Hari
Ketua MWC NU Kaliwungu, Muhammad Soleh, mengatakan karnaval budaya Islam merupakan bagian dari syiar keagamaan sekaligus sarana mempererat kebersamaan masyarakat dalam menyambut datangnya Tahun Baru Hijriah.
“Dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, peserta kami melibatkan seluruh pengurus ranting NU di Kecamatan Kaliwungu beserta badan otonomnya. Selain itu, kami juga melibatkan lembaga-lembaga sekolah di bawah Lembaga Pendidikan Ma’arif,” ujarnya.
Bupati Kendal, Diah Kartika Permanasari, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya karnaval budaya Islam. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi wujud kegembiraan masyarakat dalam menyambut bulan Muharam sekaligus sarana memperkuat silaturahmi dan melestarikan budaya lokal.
“Bulan Muharam merupakan bulan yang penuh berkah dan kemaslahatan. Festival budaya Islam ini menjadi sarana menjalin silaturahmi, mempererat kekeluargaan, sekaligus wujud pelestarian budaya lokal yang perlu terus dijaga,” katanya.
Diah berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan setiap tahun sebagai ruang pengembangan kreativitas masyarakat, pelestarian budaya daerah, sekaligus penggerak potensi ekonomi lokal.
Salah seorang penonton, Siti Baroroh, warga Desa Mororejo, mengaku sengaja datang bersama keluarganya untuk menyaksikan karnaval tersebut. Menurutnya, kegiatan itu tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan pesan positif bagi masyarakat.
