KENDAL, RADARPEKALONGAN.ID – Sebanyak 800 santri, guru, dan wali santri memadati Pendopo Tumenggung Bahurekso Kendal dalam Gebyar Muharram 1448 H yang dirangkaikan dengan Khatmil Qur’an, Rabu (17/6/2026). Kegiatan ini menjadi momentum syiar Islam sekaligus penguatan pendidikan Al-Qur’an untuk membentuk generasi muda yang religius dan berkarakter Qurani.
Acara yang diinisiasi Koordinator Cabang Qiraati 5 Jilid Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Kabupaten Kendal tersebut turut dimeriahkan parade Qiraati dari 11 lembaga TPQ. Kegiatan ini menjadi wadah penguatan metode pembelajaran Al-Qur’an yang tidak hanya menekankan kemampuan membaca, tetapi juga menghafal secara bertahap sejak usia dini.
Bupati Kendal melalui Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra), Arif Masrukhin, dalam sambutannya mengapresiasi terselenggaranya kegiatan yang mempertemukan santri, orang tua, dan para pendidik dalam satu momentum kebersamaan. Menurut Bupati, keberhasilan santri dalam menyelesaikan pembelajaran Al-Qur’an merupakan hasil sinergi antara ketekunan peserta didik, dedikasi ustaz-ustazah, serta dukungan orang tua.
Baca Juga:Disdikbud Batang Tegaskan Surat Domisili Tak Berlaku untuk SPMB SD, Wajib Pakai KKNelayan Tenggelam di Dermaga Klidang Lor Batang Ditemukan Meninggal Setelah Dua Hari Pencarian
“Proses ini membutuhkan ketekunan, kesabaran, dan keistiqamahan. Karena itu, capaian para santri patut kita apresiasi bersama,” demikian pesan Bupati.
Bupati juga menegaskan bahwa Khatmil Qur’an bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal untuk terus memperdalam bacaan Al-Qur’an secara tartil dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Khatmil Qur’an ini bukan akhir dari perjalanan belajar, melainkan awal untuk terus membaca Al-Qur’an dengan tartil sesuai kaidah tajwid dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.
Koordinator Qiraati Cabang Kendal, Ma’rifah, menegaskan bahwa metode Qiraati 5 Jilid dirancang untuk mencetak generasi penghafal Al-Qur’an melalui pembelajaran berjenjang, mulai setengah juz hingga tiga juz.
“Cita-cita kami bukan sekadar membuat anak mampu membaca, tetapi juga menghafal Al-Qur’an sejak usia dini,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Qiraati 5 Jilid, Abdul Rokhim, menjelaskan bahwa pada level satu juz, santri menjalani tadarus intensif pagi dan sore yang memungkinkan khatam hingga enam kali dalam tiga bulan. Ma’rifah menegaskan kegiatan ini bukan perlombaan, melainkan syiar pendidikan Al-Qur’an yang menargetkan lahirnya hafiz di bawah usia sembilan tahun.
