Juga berani meminta bantuan kepada guru, serta memiliki rasa percaya diri untuk menghadapi lingkungan baru. Kemampuan-kemampuan inilah yang menjadi fondasi agar anak mampu belajar secara optimal ketika memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Salah satu pesan yang sangat menyentuh dari Toy Story 5 tergambar melalui dialog, “Kita tidak pernah tahu kapan dan bagaimana seorang anak menjadi dewasa. Tapi tugas kita adalah memastikan anak bermain dan berbahagia dengan itu.”
Kalimat tersebut mengandung makna psikologis yang sangat mendalam. Kedewasaan bukanlah sesuatu yang dapat dipercepat melalui tekanan akademik ataupun target prestasi.
Baca Juga:SD Muhammadiyah Tangkil Tengah Juara Umum Kejuaraan Drumband Kids Jemari Spenga, Inovasi Digital SMPN 3 Pekalongan Bangun Ekosistem Wirausaha Pelajar Â
Sebaliknya, kedewasaan tumbuh secara alami ketika anak memiliki ruang yang aman untuk bermain, bereksplorasi, berimajinasi, mencoba, gagal, kemudian bangkit kembali.
Bermain bukanlah aktivitas yang membuang waktu, melainkan laboratorium kehidupan tempat anak belajar bekerja sama, bernegosiasi, menyelesaikan konflik, mengembangkan empati, dan melatih regulasi emosi.
Penelitian psikologi perkembangan menunjukkan bahwa pengalaman bermain bebas (free play) berkontribusi besar terhadap perkembangan fungsi eksekutif (executive function), yaitu kemampuan mengendalikan perhatian, mengatur perilaku, menyusun rencana, serta menyelesaikan masalah.
Fungsi-fungsi tersebut justru menjadi modal utama ketika anak mulai mengikuti pembelajaran yang lebih terstruktur di Sekolah Dasar.
Oleh karena itu, kesiapan sekolah (school readiness) seharusnya dipahami sebagai kesiapan anak secara utuh—mencakup aspek kognitif, sosial, emosional, fisik, dan kemandirian—bukan hanya kemampuan akademik semata.
Oleh karena itu, alih-alih terus menerus menjejalkan lembar kerja akademis menjelang masuk SD, fokus intervensi orang tua sebaiknya dialihkan pada penguatan aspek psikososial.
Orang tua dapat melatih kematangan ini dengan membangun rutinitas yang konsisten, memberikan ruang bagi anak untuk mengambil keputusan kecil, serta mengajarkan mereka cara mengenali dan mengekspresikan emosi dengan sehat.
Baca Juga:Islamic Festival Smuhi Berlangsung Meriah dan MemukauBorong 4 Piala FLS3N, SD Muhammadiyah Tangkil Tengah Siap Melaju ke Tingkat Kabupaten
Mengajak anak berdiskusi, mendengarkan kekhawatiran mereka tentang sekolah baru, dan memberikan validasi atas perasaan takut mereka adalah langkah konkret yang jauh lebih berdampak pada kesiapan mental mereka di sekolah dasar kelak.
Pada akhirnya, kita harus menyadari bahwa gerbang Sekolah Dasar adalah langkah awal anak memasuki miniatur masyarakat yang sesungguhnya.
