Oleh : Rizki Nuansa Hadyan, S.Psi, MM, Psikolog
RADARPEKALONGAN.ID – Sejak pertama kali menyapa dunia pada tahun 1995, waralaba Toy Story selalu berhasil melampaui batasan film animasi anak-anak.
Ia telah berevolusi menjadi sebuah saga psikologis yang mendalam tentang kesetiaan, identitas, dan seni merelakan.
Di bawah arahan Andrew Stanton, Toy Story 5 tidak hanya mempertahankan warisan emosional tersebut, tetapi juga berhasil menjawab keraguan publik tentang “untuk apa sekuel ini dibuat” dengan sebuah narasi yang relevan dengan era modern; digital detachment dan transisi mental menuju kedewasaan.
Baca Juga:SD Muhammadiyah Tangkil Tengah Juara Umum Kejuaraan Drumband Kids Jemari Spenga, Inovasi Digital SMPN 3 Pekalongan Bangun Ekosistem Wirausaha Pelajar Â
Film ini mengambil latar waktu beberapa tahun setelah peristiwa di film keempat. Fokus cerita beralih pada Bonnie yang kini beranjak remaja dan mulai memasuki fase transisi kritis dalam hidupnya.
Di era di mana layar gawai dan algoritma media sosial mulai mendominasi perhatian anak-anak, Woody, Buzz Lightyear, Jessie, dan kawan-kawan menghadapi ancaman eksistensial terbesar mereka. Bukan lagi sekadar dilupakan di dalam kotak mainan, melainkan digantikan oleh “dunia virtual” yang dingin namun adiktif.
Konflik memuncak ketika Woody dan kawan-kawan harus melakukan perjalanan ke dalam ruang digital –sebuah metafora visual yang brilian tentang bagaimana anak-anak masa kini kehilangan ruang bermain fisik mereka– untuk menyelamatkan esensi masa kecil Bonnie yang perlahan memudar.
Toy Story 5 kembali mengingatkan kita bahwa kisah Woody, Buzz Lightyear, dan para mainan bukan sekadar hiburan keluarga.
Film ini selalu berbicara tentang proses tumbuh kembang anak, perubahan peran, serta bagaimana orang dewasa belajar melepaskan ketika anak mulai memasuki fase kehidupan yang baru.
Di Indonesia, pesan tersebut terasa sangat relevan ketika banyak orang tua lebih sibuk mempersiapkan anak membaca, menulis, dan berhitung menjelang masuk Sekolah Dasar, sementara kesiapan mental dan kematangan sosial justru sering terabaikan.
Dalam perspektif psikologi perkembangan, keberhasilan transisi dari Taman Kanak-kanak menuju Sekolah Dasar bukan terutama ditentukan oleh seberapa cepat anak mampu membaca atau mengerjakan soal matematika.
Baca Juga:Islamic Festival Smuhi Berlangsung Meriah dan MemukauBorong 4 Piala FLS3N, SD Muhammadiyah Tangkil Tengah Siap Melaju ke Tingkat Kabupaten
Yang jauh lebih menentukan adalah kematangan sosial-emosional. Anak perlu mampu mengikuti aturan bersama, menunggu giliran, mengendalikan emosi ketika kecewa, membangun hubungan positif dengan teman sebaya.
