Toy Story 5 dan Kesiapan Anak Memasuki SD, Bermain Menjadi Fondasi Kematangan Sosial

Toy Story
Sejak pertama kali menyapa dunia pada tahun 1995, waralaba Toy Story selalu berhasil melampaui batasan film animasi anak-anak. (foto: Youtube: Entertainment Access)
0 Komentar

Seperti akhir kisah yang selalu optimis dalam setiap sekuel Toy Story, tugas kita bukanlah menahan anak-anak agar tidak tumbuh besar, atau sebaliknya, memaksa mereka dewasa sebelum waktunya.

Tugas kita adalah memastikan bahwa ketika mereka melangkah melewati gerbang sekolah barunya dengan tas punggung yang tampak besar itu, mereka melangkah dengan mental yang tangguh, hati yang penuh dengan memori bermain yang bahagia, dan keyakinan bahwa mereka mampu menghadapi dunia yang baru.

Karena itu, orang tua maupun guru perlu mengubah cara pandang terhadap proses persiapan masuk SD.

Baca Juga:SD Muhammadiyah Tangkil Tengah Juara Umum Kejuaraan Drumband Kids Jemari Spenga, Inovasi Digital SMPN 3 Pekalongan Bangun Ekosistem Wirausaha Pelajar  

Target utama bukanlah mencetak anak yang paling cepat membaca, melainkan membangun anak yang bahagia, tangguh, percaya diri, mampu bersosialisasi, serta memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.

Anak yang matang secara sosial dan mental akan lebih mudah beradaptasi dengan berbagai tantangan belajar dibandingkan anak yang hanya unggul secara akademik tetapi belum siap menghadapi dinamika kehidupan sekolah.

Sebagaimana pesan yang selalu dihadirkan Toy Story, tugas orang dewasa bukan mempercepat masa kecil anak, melainkan menemani mereka menikmati setiap proses tumbuh kembangnya.

Sebab, di balik permainan yang tampak sederhana, sesungguhnya sedang dibangun pondasi kepribadian yang akan menentukan keberhasilan mereka di masa depan. (*)

*) Penulis adalah Psikolog, Coach, Assessor dan Trainer.

Laman:

1 2 3
0 Komentar