Puncak Pek Cun 2026 di Pasir Kencana: Dari Ritual Syukur hingga Perekat Keragaman

Puncak Pek Cun 2026 di Pasir Kencana: Dari Ritual Syukur hingga Perekat Keragaman
KHIDMAT DAN SEMARAK – Festival Pek Cun 2026 di Taman Wisata Laut Pasir Kencana, Kota Pekalongan, Jumat (19/6/2026) sore berjalan khidmat dan semarak.
0 Komentar

PEKALONGAN, RADARPEKALONGAN.ID – Suasana sakral sekaligus semarak mewarnai perayaan Festival Pek Cun 2026 di Taman Wisata Laut Pasir Kencana, Kota Pekalongan, Jumat (19/6/2026) sore. Tradisi tahunan masyarakat Tionghoa ini tidak hanya berfungsi sebagai upaya pelestarian budaya, tetapi juga menjadi medium untuk memperkuat tali persaudaraan dan menumbuhkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Rangkaian kegiatan dibuka dengan pelaksanaan sembahyang dan ritual keagamaan Konghucu yang dipimpin oleh para rohaniwan. Sepanjang sore, pengunjung disuguhi beragam atraksi khas Pek Cun, mulai dari persembahan sesaji, pembacaan doa, lomba mendirikan telur yang selalu mengundang antusiasme, pertunjukan barongsai, hingga prosesi puncak berupa penyempurnaan Perahu Naga dan sedekah laut.

Rohaniwan Agama Konghucu, Josen Indang Wijaya, mengungkapkan bahwa tradisi penyempurnaan atau pembakaran kapal dalam perayaan Pek Cun memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Perahu Naga yang menjadi simbol penting dalam budaya Tionghoa. Di Kota Pekalongan, tradisi tersebut dipadukan dengan kearifan lokal melalui sedekah laut. Perpaduan ini merupakan wujud rasa syukur atas rezeki dan sumber kehidupan yang diberikan melalui laut, khususnya bagi masyarakat pesisir.

Baca Juga:Pedagang Kurangi Stok 30 Persen Imbas Harga Daging Sapi Naik Rp3.000 per KgPendaftaran SPMB SMP Kabupaten Pekalongan Diundur Sepekan, Validasi Piagam Diperketat Demi Transparansi

“Makna penyempurnaan kapal ini hanya simbolik sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberikan segala sesuatu dalam kehidupan kita,” ujar Josen.

Menurut penjelasannya, perayaan Pek Cun diawali dengan sembahyang dan ritual keagamaan sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan. Adapun tradisi mendirikan telur yang menjadi salah satu daya tarik festival ini berkaitan dengan fenomena alam yang dipercaya terjadi setiap tanggal 5 bulan 5 dalam kalender tradisional Tionghoa. Pada momen tersebut, diyakini terjadi posisi tertentu antara bumi, matahari, dan bulan yang memungkinkan telur ayam dapat berdiri tegak.

“Fenomena tersebut menjadi pengingat akan kebesaran Tuhan melalui hukum-hukum alam yang diciptakan-Nya,” jelasnya.

Festival Pek Cun 2026 kali ini diikuti oleh berbagai komunitas dan peserta dari sejumlah daerah, di antaranya Kota Tegal, Kota Semarang, Kabupaten Semarang (Ambarawa), dan Kota Pekalongan sebagai tuan rumah. Kehadiran peserta lintas daerah tersebut menunjukkan bahwa Pek Cun tidak lagi menjadi milik satu komunitas saja, melainkan telah bertransformasi menjadi bagian dari kekayaan budaya nasional yang dapat dinikmati oleh masyarakat luas.

0 Komentar