Tiga Gus Nasional Bedah Peran Ulama Pesantren di Pekalongan, Tegaskan Pentingnya Teladan dan Sanad

Tiga Gus Nasional Bedah Peran Ulama Pesantren di Pekalongan, Tegaskan Pentingnya Teladan dan Sanad
WAHYU HIDAYAT, HALAQAH – Tiga ulama terkemuka, Gus Hilmy, Gus Ghofur, dan Gus Hatim menjadi narasumber dalam Halaqah Nilai-Nilai Keulamaan Pesantren yang digelar RMI PCNU Kota Pekalongan di Gedung Aswaja, Sabtu (18/7/2026).
0 Komentar

Pekalongan, RADARPEKALONGAN.ID — Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan bekerja sama dengan UIN K.H. Abdurrahman Wahid menggelar Halaqah Nilai-Nilai Keulamaan Pesantren di Gedung Aswaja PCNU Kota Pekalongan pada Sabtu (18/7/2026).

Forum ilmiah bertajuk “Membaca Etnografi Ulama Pesantren sebagai Episentrum Keilmuan dan Peradaban di Nusantara” ini menghadirkan tiga pengasuh pesantren terkemuka, yaitu Dr. KH. Hilmy Muhammad (Gus Hilmy) dari Krapyak Yogyakarta, Dr. KH. Abdul Ghofur Maimoen (Gus Ghofur) dari Sarang Rembang, dan Dr. KH. Hatim Ghazali (Gus Hatim) dari RMI PBNU.

Dalam pemaparannya, Pengasuh Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak, Gus Hilmy Muhammad, menegaskan bahwa pesantren merupakan kawah candradimuka dalam membentuk karakter calon kiai. Pendidik di pesantren dituntut untuk tidak sebatas mengajar, melainkan hadir menjadi teladan dan penyelesai masalah sosial di masyarakat.

Baca Juga:Diduga Dibakar OTK, Polisi Tunggu Hasil Labfor Ungkap Kebakaran MTs NU 27 Unggulan Jatipurwo KendalPutus Rantai Penyakit Genetik, POPTI Batang Sasar Remaja lewat Sosialisasi Zero Talasemia di Sekolah

“Kiai harus menjadi teladan. Jangan diam saja melihat masalah umat di lingkungan sekitar. Jika ada pencemaran limbah atau polusi, ulama harus hadir memberikan riayah (perlindungan) dan solusi,” kata Gus Hilmy, Sabtu.

Gus Hilmy yang juga merupakan anggota DPD RI dari DIY ini menambahkan, pemaknaan hukum Islam (fikih) perlu terus diadaptasikan secara kontekstual agar relevan dengan dinamika zaman tanpa mengikis keutamaan ajaran klasik.

Sementara itu, Katib Syuriah PBNU, Gus Ghofur Maimoen, menyoroti dimensi kepemimpinan keulamaan dalam ranah kebangsaan. Menurutnya, peran ulama mencakup penyucian jiwa (tazkiyatu nufus) bagi para pimpinan negara.

“Tugas kiai bukan hanya taklimul ilmi (mengajar ilmu syariat), tapi juga tazkiyatu nufus terhadap para pemimpin bangsa. Ini adalah tugas yang maha berat,” ujar Katib Syuriah PBNU tersebut.

Di sisi lain, perwakilan RMI PBNU, Gus Hatim Ghazali, menyoroti fenomena maraknya penceramah di media sosial yang akrab di kalangan generasi muda (Gen Z). Ia mengingatkan publik agar cermat memilah antara kemampuan tata kata (public speaking) dengan keabsahan sanad keilmuan.

Gus Hatim mendorong seluruh pengelola lembaga pesantren untuk berani melakukan pembenahan manajemen internal, mulai dari peningkatan standar pengasuhan demi mencegah segala bentuk tindakan kekerasan, hingga modernisasi sarana prasarana agar tetap kompetitif.

0 Komentar