Putus Rantai Penyakit Genetik, POPTI Batang Sasar Remaja lewat Sosialisasi Zero Talasemia di Sekolah

Putus Rantai Penyakit Genetik, POPTI Batang Sasar Remaja lewat Sosialisasi Zero Talasemia di Sekolah
NOVIA ROCHMAWATI. SOSIALISASI - POPTI Batang saat menggelar sosialisasi Zero Talasemia di SMAN 2 Batang.
0 Komentar

Batang, RADARPEKALONGAN.ID — Persatuan Orang Tua Penyandang Talasemia Indonesia (POPTI) Kabupaten Batang memanfaatkan momentum Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMAN 2 Batang untuk mengampanyekan gerakan Zero Talasemia.

Langkah edukasi dini ini menyasar ratusan siswa baru guna memberikan pemahaman mendalam seputar penyakit kelainan darah, sekaligus memutus mata rantai lahirnya generasi baru penyandang talasemia mayor di masa depan.

Dalam agenda tersebut, POPTI menggandeng dokter spesialis anak dari RSUD Kalisari Batang, dr. Tan Evi Susanti, Sp.A., untuk memaparkan materi klinis yang mudah dipahami oleh kelompok usia remaja.

Baca Juga:Bunda PAUD Kota Pekalongan Pantau MPLS di TK Pembina, Pastikan Ramah Anak dan Bebas TekananLibatkan Orangtua, MPLS Ramah di SMPN 1 Sragi Pekalongan Diikuti Ratusan Siswa Tanpa Perpeloncoan

“Hari ini kami mensosialisasikan talasemia kepada anak-anak remaja melalui kegiatan MPLS. Ini menjadi waktu yang sangat tepat untuk memberikan edukasi sejak dini tentang apa itu talasemia dan bagaimana cara pencegahannya,” kata dr. Tan Evi Susanti, Jumat (17/7/2026).

Tan Evi mengungkapkan, para pelajar menunjukkan ketertarikan yang tinggi mengingat mayoritas dari mereka baru pertama kali mendengar istilah medis ini. Para siswa aktif melayangkan pertanyaan seputar faktor pemicu, tata cara penanganan medis, hingga metode preventifnya.

Sebagai informasi, talasemia merupakan penyakit kelainan darah yang bersifat genetik atau diturunkan dari orangtua kepada anak. Penderita dengan kategori talasemia mayor diwajibkan menjalani prosedur transfusi darah secara berkala seumur hidupnya.

“Satu-satunya cara memutus rantai talasemia mayor adalah melalui skrining sejak dini, terutama sebelum menikah,” ujar Tan Evi menegaskan solusi pencegahan utama.

Sementara itu, Ketua POPTI Kabupaten Batang, Nety Widjayanti, menjelaskan bahwa gerakan menyambangi sekolah-sekolah merupakan program prioritas yang tengah digencarkan.

Saat ini, tercatat ada lebih dari 40 pasien penyandang talasemia yang tersebar di hampir seluruh kecamatan di Kabupaten Batang.

Nety menerangkan, langkah awal mendeteksi apakah seseorang menjadi pembawa sifat (carrier) talasemia dapat diketahui secara akurat melalui pemeriksaan kadar hemoglobin darah.

Baca Juga:Kasus Koperasi BMJ Kendal Naik ke Penyidikan, SPDP Resmi Dikirimkan ke Kejati JatengBupati Batang Instruksikan Proyek Tak Lagi Menumpuk di Akhir Tahun, Siapkan Lelang Dini

Salah satu siswa baru peserta MPLS, Haidar, mengaku mendapatkan wawasan baru yang sangat berharga dari sosialisasi kesehatan ini. Ia menyebut materi edukasi kelainan darah genetik tersebut dikemas secara interaktif dan menarik bagi kalangan pelajar. (nov)

0 Komentar