RADARPEKALONGAN.ID, KENDAL – Di tengah masifnya gempuran hiburan digital yang menawarkan pengalaman virtual instan, eksistensi pasar malam sebagai sarana hiburan rakyat ternyata belum sepenuhnya pudar. Hiburan tradisional ini mencoba bertahan dengan membidik segmen keluarga, khususnya anak-anak usia dini.
Pemandangan tersebut terekam jelas di Pasar Malam Vella Ria Semarang yang beroperasi di Desa Gemuhblanten, Kecamatan Gemuh, Kabupaten Kendal. Sejak dibuka sepekan terakhir, hiruk-pikuk pengunjung selalu mewarnai akhir pekan, meski pada hari biasa terbilang lengang. Deretan wahana permainan, sentra kuliner, hingga lapak mainan menjadi magnet utama yang merawat napas pasar malam ini.
Musama, 40 tahun, warga Desa Sedayu, Kecamatan Gemuh, mengaku menjadikan pasar malam sebagai alternatif hiburan keluarga.
Baca Juga:Tawuran Gangster Pecah di Permukiman Ngilir Kendal, Satu Warga Terluka Terkena Sabetan SajamWawalkot Balgis Rombak BP4 Pekalongan: Bukan Cuma Ceramah Pranikah, Siap Dampingi Pasutri Cegah Cerai!
“Saya tahunya karena sering lewat sini. Sudah dua kali ke sini, biasanya cuma menemani anak saja kalau dia ingin hiburan,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Sabtu malam, 18 April 2026.
Ia menyebutkan, wahana sederhana seperti mewarnai gambar masih memiliki daya tarik kuat bagi anak-anak. Hanya dengan merogoh kocek Rp15 ribu, anak-anak bisa berkreasi sekaligus membawa pulang hasilnya.
“Anak saya tadi pilih mewarnai, dia senang karena hasilnya bisa dibawa pulang,” katanya.
Pengakuan serupa datang dari Aris Gunawan, 40 tahun, pengunjung asal Desa Sojomerto. Kunjungannya berawal dari ketidaksengajaan saat melintas di area tersebut.
“Tadi hanya lewat, kebetulan anak lihat ada pasar malam, akhirnya mampir,” tuturnya.
Aris menilai pasar malam mungkin sulit menandingi kecanggihan hiburan digital, namun fungsinya tetap relevan secara visual dan motorik untuk anak-anak. “Anak seusia TK masih alami. Apa yang dilihat langsung seperti ini justru menarik,” tegas Aris.
Tantangan Cuaca dan Kompetisi Bisnis
Pengelola Pasar Malam Vella Ria, Slamet Budiono, menceritakan bahwa bisnis hiburan keliling ini telah ia tekuni selama kurang lebih 30 tahun dengan melintasi berbagai daerah di Jawa Tengah. Khusus di Gemuhblanten, pihaknya mengontrak lahan selama satu bulan kalender penuh.
Baca Juga:Batal Bangun Gedung DPRD demi Jalan, Plt Bupati Pekalongan Minta Kades Jaga Kondusivitas Jelang PilkadesSemarak HBP Ke-62, Warga Binaan Lapas Pekalongan Adu Vokal di Lomba Karaoke
Budi menetapkan tarif Rp10 ribu untuk setiap wahana utama. Jika terdapat wahana yang mematok harga Rp15 ribu, Budi memastikan bahwa lapak tersebut berstatus menumpang atau dompleng di bawah bendera Vella Ria.
