RADARPEKALONGAN.ID, KAJEN – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2026 menjadi momentum evaluasi kritis bagi sistem pendidikan di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Pasalnya, daerah ini tengah menghadapi situasi darurat krisis tenaga pendidik dengan tingkat kekurangan guru mencapai lebih dari 1.700 orang.
Kondisi memprihatinkan ini disoroti secara tajam oleh Forum Masyarakat Sipil (Formasi) Kabupaten Pekalongan. Ketua Formasi Kabupaten Pekalongan, Mustajirin, mengungkapkan bahwa krisis ini dipicu oleh ketidakseimbangan antara jumlah guru yang memasuki masa purnatugas (pensiun) dengan rekrutmen formasi baru dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan kajian organisasinya, Mustajirin memproyeksikan jurang defisit tenaga pendidik ini akan semakin melebar. Pada tahun ini saja, diperkirakan ada lebih dari 250 guru yang pensiun, dan angka tersebut diprediksi melonjak hingga sekitar 400 guru pada tahun 2027.
Baca Juga:Fakta Baru Video Asusila Viral di Batang, Pemeran Pria Tergiur Cuan Rp 220 Juta dari Akun MisteriusAksi May Day 2026 di Kendal Berlangsung Damai, Buruh Gelar Konvoi Polwan Bagikan Bunga
“Jadi kami melihat, ini benar-benar di ambang krisis guru. Apabila Pemkab Pekalongan tidak melakukan pemenuhan formasi guru, satu-dua tahun lagi pendidikan kita bisa gulung tikar,” tegas Mustajirin saat bersilaturahmi di Kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Pekalongan, Kamis (30/4/2026).
Menyikapi ancaman serius tersebut, Formasi mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) serta DPRD Kabupaten Pekalongan untuk segera mengambil langkah taktis. Jika rekrutmen Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) atau Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) belum memadai, pemerintah daerah diminta mencari diskresi.
“Atau paling tidak ada dukungan untuk mencabut aturan pelarangan pengadaan honorer. Ini agar menutup kekurangan jumlah guru, sambil menunggu pengadaan formasi CPNS,” tambahnya.
Dindikbud Akui Kekurangan 1.730 Guru
Dikonfirmasi secara terpisah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Pekalongan, Kholid, membenarkan adanya krisis tenaga pengajar tersebut. Berdasarkan data pembaruan terkini, jumlah guru yang tersedia di Kabupaten Pekalongan hanya sebanyak 5.041 orang, jauh di bawah angka kebutuhan ideal yang mencapai 6.771 orang.
“Jadi memang kekurangan 1.730 orang guru,” ucap Kholid mengakui realitas di lapangan.Kholid merinci, defisit terbesar terjadi pada formasi guru kelas di jenjang Sekolah Dasar (SD) yang mencapai sekitar 560 orang.
Kekurangan signifikan juga terjadi pada guru mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) sebanyak 220 orang, disusul mata pelajaran lain seperti Bahasa Jawa, Pendidikan Agama Islam, Bahasa Indonesia, Bimbingan Konseling (BK), IPS, hingga TIK.
