Dorong Kualitas Panen, Permintaan Bibit Tembakau Mutiara Hitam di Kendal Alami Lonjakan

Dorong Kualitas Panen, Permintaan Bibit Tembakau Mutiara Hitam di Kendal Alami Lonjakan
ABDUL GHOFUR, BERSIAP PENANAMAN - Jumad bersama keluarga mencabut bibit tembakau siap tanam di bedengan persemaian Desa Pamriyan, Gemuh, Kendal. Permintaan tinggi membawa harapan panen melimpah dan keuntungan petani, Senin (8/6/2026).
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID, Kendal — Hamparan bedengan bibit tembakau yang menghijau mulai memenuhi kawasan pertanian di sejumlah sentra budidaya Kabupaten Kendal. Salah satu titik aktivitas pembibitan yang tengah menggeliat berada di Desa Pamriyan, Kecamatan Gemuh. Di balik pertumbuhan bibit yang subur tersebut, tersimpan asa para petani untuk meraup untung besar pada musim tanam tahun ini.

Budidaya bibit yang dilakukan secara intensif sejak awal musim dinilai menjadi faktor penentu utama untuk menghasilkan daun tembakau berkualitas tinggi dengan nilai jual yang menjanjikan. Hal ini mendorong para petani lokal untuk memperketat perawatan tanaman sejak tahap persemaian di bedengan.

Salah satu pembudidaya bibit tembakau senior, Jumad, 58 tahun, mengaku telah puluhan tahun konsisten menekuni usaha pembibitan tembakau varietas Mutiara Hitam Berkilau. Pria asal Desa Cepokomulyo ini menyewa lahan seluas 300 meter persegi dengan nilai kontrak Rp7 juta per tahun guna menunjang produktivitas persemaiannya.

Baca Juga:Perkuat Pengawasan Dana Desa, Kejari Batang dan ABPEDNAS Luncurkan Aplikasi Jaga DesaRespons Viral "Kendal Nggebal" Akibat Galian C, Pemkab dan Forkopimda Reaktivasi Satgas Tambang MBLB

“Biaya operasional sampai bibit siap dipanen sekitar Rp7 juta,” kata Jumad saat ditemui di sela aktivitasnya mencabut bibit, Senin, 8 Juni 2026.

Jumad menjelaskan, modal operasional tersebut dialokasikan untuk membiayai pengolahan tanah gembur, pembuatan sumur bor, pembelian benih unggul, plastik pelindung, tudung semai bambu, hingga kebutuhan pestisida. Dari total 85 bedengan yang ia kelola, sebagian juga dimanfaatkan secara tumpang sari untuk pembibitan komoditas tomat dan cabai.

Langkah diversifikasi ini terbukti ampuh menambah pundi-pundi pendapatannya karena harga jual bibit sayuran tersebut setara dengan bibit tembakau. Memasuki awal Juni, ia mengaku kewalahan meladeni tingginya animo pasar.

“Alhamdulillah, awal Juni ini bibit sudah mulai panen dan banyak yang membeli. Sebagian bahkan sudah memesan jauh hari,” ujar Jumad.

Untuk urusan harga, Jumad mematok tarif Rp50 ribu per 1.000 batang bibit. Dalam sekali transaksi, para petani dari berbagai daerah biasanya langsung memesan pasokan berkisar antara 7.000 hingga 15.000 batang. Akibat tingginya permintaan pasar, rata-rata sebanyak 25.000 batang bibit tembakau harus dicabut dari bedengan setiap harinya.

“Bibit yang baik menjadi penentu keberhasilan tanam. Kalau bibitnya sehat, peluang panennya juga lebih menguntungkan,” tutur Jumad menandaskan pentingnya fase awal penanaman.

0 Komentar