Tingkep Tandur Laban, Merawat Padi Menjaga Warisan Leluhur

Tingkep Tandur Laban, Merawat Padi Menjaga Warisan Leluhur
ABDUL GHOFUR. TINGKEP TANDUR - Memasuki usia tanam 60 hari, tradisi Tingkep Tandur kembali diperingati masyarakat dengan menggelar selamatan sebagai ungkapan rasa syukur, Rabu (15/7/2026).
0 Komentar

KENDAL, RADARPEKALONGAN.ID – Tradisi Tingkep Tandur kembali digelar masyarakat Desa Laban, Kecamatan Kangkung, Kabupaten Kendal, sebagai wujud syukur atas tumbuhnya tanaman padi sekaligus ikhtiar menjaga harapan menuju panen yang melimpah.

Kegiatan yang sarat filosofi Jawa ini menjadi pengingat bahwa hubungan manusia dengan alam harus selalu dijaga melalui rasa syukur dan kebersamaan.

Tingkep Tandur merupakan tradisi selamatan petani Jawa yang biasanya dilaksanakan ketika usia tanaman padi memasuki sekitar 60 hari.

Baca Juga:FANTATIK Tanamkan Etika Bermedia Sosial kepada Siswa SMP Negeri 6 PekalonganTata Niaga Telur Satu Pintu Diterapkan di Kendal, Jadi Model Percontohan Program MBG

Dalam filosofi masyarakat Jawa, tandur dimaknai sebagai ditata karo mundur, yakni proses menanam yang dilakukan dengan keteraturan dan ketelatenan.

Makna tersebut menggambarkan sikap hidup petani yang sabar, tekun, serta menghargai setiap proses yang dilalui.

Kegiatan Tingkep Tandur di Desa Laban dihadiri oleh Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Kangkung, Agus Bahtiar beserta jajaran, Kepala Desa Laban Adibul Farah, masyarakat desa, Kelompok Tani Sumber Makmur dan Subur Makmur, serta seluruh petani Desa Laban, Rabu (15/7/2026).

Selain itu, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang turut hadir dan mengikuti rangkaian tradisi tersebut.

Bagi mahasiswa KKN, kegiatan ini menjadi pengalaman pertama mengenal secara langsung budaya agraris yang masih lestari di tengah masyarakat.

Mereka mengaku terkesan dengan gotong royong dan kekompakan warga dalam melestarikan tradisi leluhur.

Dalam prosesi tersebut, warga berkumpul membawa hidangan selamatan seperti tumpeng dan makanan kenduri untuk dipanjatkan doa bersama.

Baca Juga:Dukung Pengembangan Kampus UMKABA, Bupati Kendal Serahkan Hibah Rp5 Miliar untuk PDM KendalTak Kejar Wisata Massal, Desa Tombo Pilih Jaga Alam dan Kopi Lokal

Doa tersebut menjadi simbol permohonan agar tanaman padi tumbuh subur, terhindar dari gangguan hama, serta menghasilkan panen yang berkah dan melimpah. Suasana khidmat dan penuh kehangatan mewarnai jalannya ritual tahunan ini.

Kepala Desa Laban, Adibul Farah, menyampaikan bahwa Tingkep Tandur bukan sekadar tradisi, melainkan bagian dari identitas masyarakat petani yang harus terus dilestarikan.

Menurutnya, di tengah gempuran modernisasi, tradisi ini menjadi pengingat akan akar budaya agraris yang telah diwariskan secara turun-temurun.

“Tradisi ini mengajarkan kita untuk selalu bersyukur, menghargai alam, dan menjaga kebersamaan. Petani tidak hanya menanam padi, tetapi juga menanam harapan untuk kehidupan yang lebih baik,” tegasnya.

0 Komentar