Kemarau Ekstrem 2026 Intai Kendal, BPBD Siapkan 100 Tangki Air Antisipasi Kekeringan

Kemarau Ekstrem 2026 Intai Kendal, BPBD Siapkan 100 Tangki Air Antisipasi Kekeringan
ABDUL GHOFUR SIAGA KEMARAU - Kasi Kedaruratan BPBD Kabupaten Kendal, Iwan Sulistyo, berfoto di depan armada tangki air yang mulai disiagakan menghadapi musim kemarau kering.
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID, KENDAL – Musim kemarau di wilayah Kabupaten Kendal diproyeksikan mulai bergulir pada Mei dan mencapai puncaknya pada Agustus 2026. Merespons ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino yang diprediksi lebih kuat dari biasanya, pemerintah daerah kini meningkatkan status kesiapsiagaan.

Kepala Seksi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kendal, Iwan Sulistyo, memetakan bahwa wilayah rawan kekeringan mayoritas berada di kawasan dataran tinggi, seperti Kecamatan Patean dan Ringinarum. Sebaliknya, wilayah perkotaan dan pesisir Pantura diproyeksikan relatif aman.

“Berdasarkan data tahun sebelumnya, kekeringan paling sering terjadi di Kendal bagian atas. Untuk wilayah kota cenderung aman,” ujar Iwan, Selasa, 21 April 2026.

Baca Juga:Melesat, Program Makan Bergizi Gratis Kendal Penuhi 175 Titik Layanan untuk 242.902 WargaGawat! Toko 24 Jam Jual Rokok Ilegal Marak di Pelosok Pekalongan, KCBI Bongkar Modusnya

Iwan menegaskan, potensi krisis air bersih tahun ini diperkirakan lebih parah seiring menguatnya fenomena El Nino “Godzilla”. Fenomena iklim ini ditandai dengan anomali pemanasan suhu permukaan Samudra Pasifik dalam skala masif.

“Dampaknya, musim kemarau akan terasa lebih panas, panjang, dan kering,” tegasnya.

Siagakan Ratusan Tangki Air dan Mitigasi Karhutla

Sebagai langkah mitigasi strategis, BPBD Kendal telah menyiagakan 100 tangki air bersih untuk didistribusikan ke daerah terdampak. Setiap unit tangki memiliki kapasitas 5.000 liter, yang akan didistribusikan secara berkala menggunakan armada tiga truk tangki berkapasitas 4.000 hingga 5.000 liter.

Menjelang masuknya musim kemarau, Kendal saat ini masih berada dalam masa pancaroba. Cuaca ekstrem yang ditandai dengan suhu panas terik di siang hari dan hujan tak menentu di sore atau malam hari diprediksi masih akan terjadi.

“Pola ini diperkirakan berlangsung hingga akhir April sebelum masuk musim kemarau,” kata Iwan.

Ia pun mendesak masyarakat untuk proaktif menabung pasokan air sejak dini. “Warga kami minta menampung air saat hujan untuk mengantisipasi kekeringan,” tambahnya.

Di tingkat nasional, Sekretaris Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Guswanto, turut memberikan alarm peringatan. Dalam rapat koordinasi daring bersama jajaran kepolisian, ia menyebut kemarau panjang berpotensi memicu eskalasi risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Baca Juga:Rutan Pekalongan Latih Napi Produksi Daster, Bekal Kemandirian Ekonomi Usai BebasPeringati Hari Kartini, Ratusan Siswa TK Pembina Batang Gelar Pawai Busana Profesi

“Puncak kemarau diprediksi terjadi Agustus hingga September, dengan dampak tidak hanya lingkungan tetapi juga sektor pangan,” ungkapnya.

0 Komentar