Peringati Hari Tari Dunia ke-44, Penari Pekalongan Gelar Maraton 10 Jam Menari Nonstop

Peringati Hari Tari Dunia ke-44, Penari Pekalongan Gelar Maraton 10 Jam Menari Nonstop
MENARI - Komunitas Tari Pekalongan gelar pertunjukkan maraton menari 10 jam dalam rangka memperingati Hari Tani Dunia (HTD).
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Komunitas Tari Pekalongan memperingati Hari Tari Dunia (HTD) ke-44 dengan menggelar aksi kebudayaan spektakuler, yakni pertunjukan maraton 10 jam menari secara nonstop. Mengusung tema “Nglaras Roso Merdi Budaya”, pergelaran seni yang bertujuan melestarikan warisan tradisi ini dipusatkan di Lapangan Jetayu, Kota Pekalongan, baru-baru ini.

Ketua Komunitas Tari Pekalongan, Bambang Irianto, menjelaskan bahwa perayaan ini merupakan momentum strategis untuk mengapresiasi dan menghidupkan kembali seni tari di tengah masyarakat. Ia memaparkan, Hari Tari Dunia pertama kali dicetuskan pada 1982 oleh International Theatre Institute, sebuah lembaga seni pertunjukan di bawah naungan UNESCO.

“Dalam kegiatan ini kami menghadirkan ikon Hari Tari Dunia berupa pertunjukan menari selama 10 jam nonstop yang dibawakan oleh penari dari Sanggar Surya Budaya,” ujar Bambang memberikan keterangan di sela-sela gelaran acara.

Baca Juga:Sempat Kabur, Pengedar Sabu 8,7 Gram di Weleri Kendal Berhasil Dibekuk PolisiKabar Gembira! Pekalongan-Batang Resmi Masuk Proyek Giant Sea Wall, Warga Pesisir Siap Terbebas dari Rob!

Libatkan Belasan Sanggar dan Anak Usia Dini

Aksi unjuk gerak ini turut mewadahi berbagai kelompok seni lokal. Tercatat ada 11 sanggar tari tradisional yang turun gunung meramaikan panggung, antara lain Kaloka, Kartika, AMDI, Puspa Kinanti SMP 12, Gayatri, Omah Budaya, Surya Budaya, Nawasena 2, Sari Arum, Ayudia, dan Wiragati.

Tidak hanya diisi oleh penari profesional, acara ini juga menggandeng peserta anak usia dini dari jenjang Taman Kanak-Kanak (TK) Ma’had Islam. Keterlibatan pelajar TK ini merupakan langkah konkret komunitas untuk memperkenalkan sekaligus menanamkan kecintaan terhadap seni budaya lokal sejak fase krusial pertumbuhan anak.

Bambang menegaskan, kegiatan peringatan HTD ini tidak sekadar menjadi etalase pertunjukan estetis, melainkan berfungsi sebagai sarana edukasi seni bagi masyarakat luas, terkhusus bagi generasi penerus bangsa.

“Kami berharap kegiatan ini tetap lestari dan mampu memberikan wawasan seni kepada anak usia dini, sehingga ke depan mereka dapat meneruskan seni-seni yang ada di Indonesia, khususnya di Kota Pekalongan,” tuturnya.

Lebih lanjut, Bambang menyoroti tren positif terkait ekosistem seni tari di Kota Batik tersebut. Hal ini dibuktikan dengan semakin bertumbuhnya jumlah sanggar tari dari yang sebelumnya terbatas, kini mulai merambah dan berkembang pesat.

0 Komentar